Sabtu, 04 Februari 2012

cerpen kami :)


Harapan Dan Persahabatan

Teeet ... Teeet ... Teet ... ! Bel pulang pun berbunyi, saat-saat yang paling di tunggu-tunggu oleh setiap siswa di SMP Harapan Bangsa. Terlihat beberapa siswa tertawa riang, ada yang sibuk dengan acara berbenahnya, bahkan ada yang terlihat belingsatan ingin segera pulang. Maklumlah kalau dilihat-lihat kelas kami lain daripada yang lain. Ehehe.... Lain karena memang warga negara kelas kami ( Duiiileehh resmi amat bahasanya ) rada-rada gokil gitu.
          Dubes kami dengan gaya sok cool nya terlihat sedang bersiap-siap memandu kami untuk memberi salam pada Bu guru. Dubes atau Duta Besar yang aku maksudkan di sini adalah Si Ketua Kelas kami, namanya Rocky. Aku juga heran mengapa namanya Rocky. Kalau dalam bahasa Inggris , arti dari Rocky itu sendiri adalah berbatu-batu. Memang kulitnya yang terlihat gelap dan hitam layaknya batu. Bahkan teman ku di kelas ada yang memanggilnya Satam. Satam adalah sejenis batu meteor yang jatuh ke bumi.
                   “ Assalaaaamuuualaaaikuum warahmatullaaahii wabarakaaaatuuuh!” Kami serentak mengucapkan salam dan berebut bersalaman dengan Bu guru. Pintu kelas terasa sempit karena kami berdesakan untuk keluar kelas.
                   “ Woooy ... sempit nih, bisa antri bentar ga sih? Ckckck...” Seru Bella.
                   “ Iih! Please deh ah, emangnya mau antri minyak apa!”  Sahut Fera yang terkenal seantero kelas paling cerewet.
                   “ Miisii ...!! anak kepsek mau lewat. Bisa kasih jalan dikit ga sih?” Celutuk Erna si anak kepsek di SMP Harapan Bangsa yang sombongnya selangit.
                   “ Idiih ...! baru aja anak kepsek, gimana kalo jadi anak presiden! Belagu lo!” Bantah Fera.
                   “ Eeh ... Udah-udah  ... Kalo terus-terusan liat kalian bertengkar, kapan kita pulangnya nih ?” Aku berusaha untuk menghentikan pertengkaran yang kalau dibiarkan terus menerus mungkin sampai besok pun tidak akan pernah selesai.
           Memang kalau dilihat selintas , kami seperti musuh, tetapi sebenarnya kami ber-4 adalah sahabat yang saling mengerti satu sama lain. Dan bagi kami jika ada yang mengatakan bahwa kekurangan harus di tutupi kelebihan yang lain, maka kami merubahnya menjadi kekurangan akan ditutupi oleh kekurangan yang lain. Hehehe.
                                                ##############
          Mobil Mercy berwarna biru cerah terlihat memasuki gerbang dan mang Anton melambaikan tangan nya dari kaca jendela mobil.  Kam ber-4 berjalan menuju arah mobil tersebut yang tidak lain adalah mobil erna. Kami ber -3 masuk ke dalam mobil tersebut tidak lain untuk menumpang. Lain dengan fera ia tidak mau masuk ..
 “Fer .. masuk sini enak lho dianterin naik mobil, gratis lagi .. hehehe” panggil Jeanny
 “ Nggak ah .. nggak mau mendingan gue jalan kaki daripada naik mobil itu” celetuk Fera
 ‘’ Sudahlah .. masuk aja gak usah sok jual mahal gitu .. gue ikhlas kali nawarin loe” sahut Erna.
                              “Ya udah deh kalau gitu .. gue masuk” jawab Fera dengan wajah cemberut.
 Kami ber -4 kemudian  diantar Erna pulang ke rumah kami masing-masing. Sesampai di rumah kepalaku terasa begitu sakit dan seharian penuh aku tertidur dengan sangat pulas.
                                                ##############
          Hari ini, tepat pada hari Senin seperti biasanya di sekolah ku selalu melaksanakan upacara bendera. Pak Isman dengan sigap mengatur semuanya. Para petugas upacara pun terlihat tengah bersiap-siap untuk melaksanakan tugasnya sebagai petugas pada hari ini. Mereka terlihat sangat serius mempersiapkan segalanya demi kelangsungan upacara bendera pada hari ini. Kelompok paduan suara pun tengah melatih suara mereka agar kompak dan tidak sumbang saat menyanyi nanti. Semua telah siap, petugas siap, peserta upacara juga siap, upacara pun dimulai.
          Sejauh ini, upacara berlangsung dengan sukses, hingga tiba-tiba matahari mulai naik dan mencurahkan sinarnya dengan suhu yang sangat panas. Semuanya baik-baik saja, dan tidak ada tanda-tanda bahwa ada peserta-peserta maupun petugas yang akan pingsan pada hari ini. Cuaca hari ini benar tidak mendukung, begitu panas dan kering. Aku memperhatikan sekelilingku, terlihat para peserta upacara yang lain mulai gelisah dan seakan tidak tahan lagi melaksanakan upacara pada hari ini.
          Aku pun merasakan demikian, keringat mulai bercucuran dari dahi ku dan membasahi topi yang kukenakan. Sekarang saatnya Pembina upacara yaitu Bu Sri untuk menyampaikan amanat dan nasehat-nasehatnya pada kami semua.
###################
          Ya Allah, tinggal sebentar lagi upacara akan berakhir. Kepalaku mulai pusing, pandangan mataku menjadi agak gelap.
                   Loe kenapa je? Kok hidungnya berdarah?” Bella bertanya dengan raut mukanya yang cemas.
                   Ha? Berdarah?”bukannya menjawab pertanyaan Bella,aku malah balik bertanya seraya memegang hidungku. Aku terkejut. Ini memang darah. Aku mimisan.Pandanganku mulai semakin gelap.Aku terjatuh dan langsung pingsan.
          Saat aku terbangun, aku sudah berada didalam ruangan UKS. Terlihat Bella si jail sedang menunggu disampingku. Setelah agak membaik, Aku dan Bella segera meninggalkan ruangan UKS dan langsung menuju ke kelas.
########################
          Keesokan harinya, pada saat sedang menjalankan proses belajar, tiba-tiba wali kelas datang dengan membawa seorang murid yang tak pernah kami lihat sebelumnya.
                   “Anak-anak, perkenalkan, ini siswa pindahan dari SMP N 47 Bandung.” jelas Bu Guru sambil memperkenal siswa tersebut.
                   “Perkenalkan, nama saya Lusi, saya adalah siswa pindahan dari SMP N 47 Bandung” jelas Lusi.
                   “Apa ada yang ingin kalian tanyakan kepada siswa baru ini?” Tanya Bu Guru.
                   Saya Bu!” Seru Bela. Dari air mukanya sepertinya dia berniat iseng nih sama murid baru. Bella memang jail.
                   “Iya Bella, silahkan.”
                   “ Hai Lusi , kalau boleh tau nomor sepatunya berapa yah? Hehehe...” Bella bertanya dengan raut wajah tanpa dosanya. Lantas semuanya tertawa dan sontak kelas ku pun menjadi riuh oleh tingkahnya.
########################
          Saat jam istirahat semuanya mengerubungi murid baru.
                   “ Alooo Lusi, kenalin namanya gue Dikky. Gue cowok paling ganteng di sekolah ini.” Dikky memperkenalkan dirinya pada Lusi dengan gaya nya yang jaim dan sok coolnya. Dikky memang terkenal paling narsis dan lebay di kelas kami.
                   “ Huuuu.... dasar Dikky, kalau liat cewek cantik dikit aja, langsung deh narsis nya kumat..” Gerutu Fera.
                   “ Aduh, Rese loe! Kalo iri bilang aja deh jangan di tutup-tutupin.” Tuduh Dikky pada Fera.
                   “ Iiihh! Ga banget deh, masa gue iri ama loe!” Sahut Fera.
                   “ Aduh Dikky, please deh ah ga mungkin lah si Fera iri ma loe!” Erna membela Fera yang membuat Dikky semakin panas saja.
                   “ Betuul tuuh, bener banget Er!” Jelas Fera.
          Perselisihan antara Fera dan Dikky terus berlanjut dan beberapa dari temanku terlihat keheranan dengan tingkah laku mereka berdua. Tiba-tiba bel masuk kelas berbunyi. Ketika mendengar bel kami cukup terkejut juga oleh suara yang begitu keras dari speaker yang letaknya sangat dekat dengan kelas kami.
                   “ Astaga... berisik banget sih, ga tau apa kalo gue lagi berantem.” Celutuk Fera.
                   “ Yah ga akan tau lah kali!” Sahut Erna.
                   “ Aduuhh,, kalian ini, ga ada hari tanpa berantem apa? Udah masuk nih, mendingan kita langsung siap-siap , selanjutnya kan pelajaran Bu Lenny ntar kita malah diomel-omelin lagi.” Aku yang tak tahan melihat pertengkaran mereka pun mulai turun tangan untuk melerai.
          Tiba-tiba..............
                   “ Hooyyy, Bu Lenny mau datang. Bu Lenny mau dataaaangg..” Teriak Bella.
          Sontak kami semua terkejut dan langsung terburu-buru ke depan kelas untuk berbaris. Selang beberapa menit kemudian ternyata Bu Lenny belum datang-datang juga.
                   “ Loh kok Bu Lenny belum datang-datang juga?” Tanyaku.
                   “ Kemanaaaa... kemana... kemaanaaaa..??” Janson langsung menyambung pertanyaan ku dengan nyanyiannya.
                   “ Suara sapa sih tuh yang nyanyi lagu Ayu Ting-Ting? Mana suaranya fals lagi.” Gerutu Fera.
                   “ Itu tuh, Si Babon.” Jawab Bella.
                   “ Mana sih Bu Lenny nya? Tadi loe bilang Bu Lenny udah datang, kok sampai sekarang belum datang juga sih?” Tanya Rocky.
                   “ Hehehe,, emang gue ada bilang kalo Bu Lenny udah datang yah?”
                   “ Laaahh, yang tadi itu loe bilang Bu Lenny udah datang kan?” Fera bertanya.
                   “ Makanya lain kali denger yang bener, gue kan bilang Bu Lenny mau datang bukannya Bu Lenny udah datang. Hehehe” Sanggah Bela.
                   “ Huuuu... Dasar Bella” Sorak teman-teman.
########################
          Di Perjalanan pulang seperti biasanya aku dan sahabat-sahabat ku yang lainnya menumpang di mobil Erna untuk diantar pulang. Yang diantar pertama kali adalah Fera selanjutnya Bella, dan yang terakhir adalah aku.
                   “ Erna, makasih yah udah mau anterin aku” Ucapku.
                     Iya, sama-sama Je.”
                   “ Ga mampir dulu nih?”
                   “ Ngga deh, kapan-kapan aja yah. Udah dulu yah, gue pulang dulu. Sampai besok.” Pamit Erna.
                   “ Iya, hati-hati di jalan yah.”
                   “ Bye Je.”
                   “ Bye Erna.”
########################

                   “ Eh Fer, PR Matematika loe udah selese belom?”
          Seperti biasa, Dikky hari ini pun masih sibuk mencari orang yang mau memberikan jawaban PR kepada nya. Dan mangsanya pada hari ini adalah Fera. Satu kesalahannya, seharusnya dia masih ingat dengan pertengkaran yang kemarin mereka perbuat. Tetapi entah lupa atau memang sengaja ia dengan nekat meminjam PR Matematika Fera.
                   “ Waah, jagoan ternyata ga bikin PR lagi nih. Eh Dikky, berani banget lo minjem PR ke gue. Padahal kan baru aja kemaren loe nyari gara-gara ma gue.” Bantah Fera.
                   “ Hehehe... udah lah Fer, itu kan kemaren. Sekarang kan udah berubah. Please, gue butuh banget nih. PR gue belom kelar.” Dikky memohon-mohon pada Fera.
                   “ Ehhhmm... gimana yah? Pinjamin ga’ yah? Eh temen-temen menurut kalian gue mesti minjamin PR ke Dikky ga’?” Tanya Fera dengan nada yang agak meledek Dikky.
                   “ Udah Fer, kita suruh dia mohon-mohon aja dulu.” Bisik Bella.
                   “ Hehehe. Bener juga tuh. Kita kerjain aja dulu. Sekali-kali kita kasih pelajaran kan gapapa yah.” Sambung Erna.
                   “ Kalian kok gitu, kan kasiaan” Aku berusaha untuk mencairkan suasana.
                   “ Kasian ma siapa?” tanya Fera.
                   “ Yah, sama Dikky lah.” Jawabku.
                   “ Ngapain orang kaya gitu dikasihanin.” Sambung Bella.
                   “ Ya udah, aku sih terserah kalian aja deh sekarang.”
                   “ Hehehe, nah sekarang giliran kita beraksi nih Fer.” Bella memprovokasi Fera agar menjalankan niat busuk mereka.
          Lusi si anak baru datang menghampiri kami.
                   “ Assalamualaikum teman-teman.” Sapa Lusi.
                   “ Wa alaikum salam Lus.” Jawab kami serentak.
                   “ Kalian lagi ngapain nih?” Tanya Lusi.
                   “ Biasalah, lagi mau ngasih pelajaran buat si Dikky nih. Sekali-kali gapapa lah yah, dia kan bandel banget tuh.” Bisik Fera.
                   “ Hehehe, boleh ikutan kan?” Lusi berniat untuk bergabung ke dalam kelompok jail ini.
                   “ Wah wah, boleh banget kok. Malahan kita seneng banget kok kalo loe mau gabung ma kita-kita.” Erna dengan semangat menyambut Lusi yang ingin bergabung.
          Mereka ber-4 mulai melaksanakan rencana mereka untuk menjaili si Dikky. Tapi aku tidak ikut dalam rencana mereka. Aku hanya bisa melihat saja.
                   “ Eh Dikky, gue mau kok minjemin PR gue ke loe asalkan loe mau mohon-mohon dulu ke gue.” Fera mulai melakukan niatnya.
                   “ Mohon-mohon? Maksudnya?” Dikky mulai bingung.
                   “ Yah mohon-mohon. Masa ga tau sih? Ga tau yah? NDESOOO!” Ledek Bella.
                   “Iya deh Iya. Gue mau ngelakuinnya asal kalian mau minjemin PR ke gue.” Dikky mulai pasrah dan akhirnya dia mau melakukan apa yang diinginkan oleh Fera.
          Dikky mulai memohon-mohon pada Fera. Segala jurus jitunya untuk merayu telah ia kerahkan namun Fera belum juga mau meminjamkan PR kepadanya. Ia mulai merasakan bahwa Fera hanya ingin mempermainkannya tetapi ia tidak peduli asalkan Fera mau meminjamkan PR nya.
                   “ Udah dong Fer, gue kan udah mohon-mohon nih ma loe. Pinjemin dong PR nya”. Dikky memohon, ia mulai lelah.
          Fera yang melihat Dikky mulai lelah pun menjadi terketuk hatinya dan ia menjadi tak tega jika lama-lama membuat Dikky seperti itu. Akhirnya Fera mau juga meminjamkan PR nya pada Dikky. Dikky terlihat senang dan berterimakasih pada Fera dan tak lupa juga ia minta maaf atas kelakuannya kemarin. Sejak kejadian ini pula kami mulai bersahabat dengan Lusi.
########################
          Pukul 09.15 waktunya istirahat dan kami pun setelah mengucapkan salam pada guru, segera berhamburan keluar kelas. Aku dan sahabat-sahabatku seperti biasanya setelah jajan di kantin kami langsung duduk ramai-ramai di bangku depan kelas. Saat sedang asyik-asyik nya bercanda tiba-tiba rasa sakit itu datang lagi. Kepalaku seperti mau pecah.
                   “ Je, loe kenapa? Kok mukanya pucet gitu?” Tanya Lusi. Seperti nya ia memperhatikan ku dan mulai cemas akan keadaan ku.
                   “ Gapapa kok. Cuman sakit kepala aja dikit Lus.” Jawabku untuk meyakinkan mereka bahwa aku baik-baik saja.
                   “ Kalau loe sakit mending kita ke UKS aja deh Je.” Sambung Bella.
                   “ Ga usah, aku gapapa kok.
                   “ Eh eh, tunggu deh. Temen-temen kok Jeje mimisan sih?” Fera setengah berteriak memanggil teman-teman.
          Suasana mulai berubah menjadi tegang. Aku tidak sepenuhnya bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Kemampuan telingaku untuk mendengar seperti telah berkurang. Kepalaku juga makin sakit saja. Aku tidak bisa mengingat apa yang terjadi tetapi setelah aku sadar aku telah berada di rumah.
                   “ Je, loe udah sadar? Kalau loe sakit cerita dong ke kita.” Lusi ternyata sangat mencemaskanku.
                   “ Ga kok. Aku gapapa.” Singkat ku.
                   “ Mending kita ke dokter aja yuk Je. Kita periksa. Gue takut loe kenapa-kenapa soalnya belakangan ini kamu sering mimisan dan pingsan.” Sambung Fera.
          Di depan terdengar suara mobil memasuki halaman rumahku. Aku mengenali suara mobil itu. Seperti suara mobil Erna, ya, aku tak salah lagi itu memang Erna. Kini ia telah berada di kamar ku dan memaksaku untuk ikut dengannya.
                   “ Je, gue ga mau tau pokoknya kita harus ke dokter sekarang juga.” Erna memaksaku.
                   “ Tapi Er..” Perkataan ku menggantung.
                   “ Ga ada tapi-tapian. Pokoknya loe ikut gue sekarang!” Bantah Erna.
                   “ Ya udah.” Aku mulai menyerah.
########################
                   “ Gimana Dok? Jeje ga kenapa-kenapa kan?” Tanya Bella.
                   “ Saya perlu berbicara pada orangtua Jeje.” Ucap dokter dengan raut muka yang serius.
                   “ Kami orangtuanya Dok.” Ayah dan Ibu ku segera memasuki ruangan dokter.
                   “ Begini pak, buk. Anak Ibu dan Bapak sepertinya mengidap penyakit Leukemia.” Jelas Dokter.
                   “ Apa Dok? Leukemia?” Ibu ku mulai syok setelah mendengar penjelasan dokter.
                   “ Ibu jangan khawatir dulu, ini baru perkiraan kami sementara. Kita harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Saya berharap anak Ibu dan Bapak tidak mengidap penyakit itu. Hasil pemeriksaannya bisa Ibu ketahui besok.” Jelas dokter.
########################
          Hari ini, hari yang sangat ku tunggu. Hasil pemeriksaan itu akan segera aku ketahui. Hanya karena selembar kertas itu akan membawa kebahagian ataukah kesedihan yang akan aku dapatkan. Aku berharap bahwa ia akan memberikan kebahagian itu padaku. Sekarang aku hanya bisa berharap dan berdoa. Sahabat-sahabatku juga akan ikut melihat hasilnya.
                   “ Je, loe tenang aja yah. Walaupun loe emang sakit, kita ga bakalan ninggalin loe kok.” Fera berusaha menenangkanku.
                   “ Iya tuh Je. Kita janji akan selalu ada untuk loe kok.” Sambung Lusi.
                   “Makasih yah teman-teman. Aku senang banget punya sahabat-sahabat seperti kalian.” Ungkapku.
                   ########################
                   “ Selamat sore dok. Kami datang untuk mengetahui hasil tes nya.” Ucap ayahku.
                   “ Ini Pak hasilnya bisa Bapak lihat di kertas ini.” Jelas dokter.
                   “ Bismillahirohmanirrohim.” Kami serentak membaca basmalah.
          Apa yang tertulis di kertas hasil tes itu sungguh membuat ku terpukul. Rasanya seperti beribu-ribu pisau menusuk hatiku. Aku merasa begitu hancur. Putus asa. Aku seperti kehilangan diriku sendiri. Rasanya kebahagian itu mulai hilang berganti dengan kesedihan dan penderitaan yang datang. Aku syok begitu terkejut.
########################
                   “ Jeje, kamu harus sadar nak.” Ibu ku terisak di samping ku yang terbujur kaku di ruang ICU.
                   “ Udah Bu, jangan sedih lagi. Kita sekarang harus berusaha sekuat mungkin untuk membuat Jeje sembuh.” Ayah berusaha menenangkan Ibu.
                    “ Bu, kita sekarang harus berusaha Bu. Kita juga harus berdoa untuk kesembuhan Jeje.” Isak Bella.
                   “ Selamat malam Bu. Keadaan Jeje sudah semakin memburuk. Saya tidak menyangka kanker itu mulai mengganas. Kita harus melakukan operasi pengangkatan kanker atau kita menghancurkan sel kanker itu dengan melakukan kemotheraphy.” Dokter mulai mengingatkan untuk mengambil tindakan segera.
                   “ Lakukan aja apa yang terbaik buat Jeje Dok.” Tegas ayahku.
########################
                   “ Nak, sebaiknya kalian pulang aja dulu. Hari sudah malam nak. Biar Ibu dan Bapak saja yang akan menunggui Jeje.” Nasehat Ibuku.
                   “ Iya Bu. Kami pulang dulu yah. Besok kami akan kesini lagi.” Pamit Erna dan sahabat-sahabatku yang lain.
########################
          Keesokan harinya sahabat-sahabatku datang lagi ke rumah sakit untuk menjengukku dan memberikan semangat padaku.
                   “ Je, loe musti tetap hidup yah Je.” Ucap Lusi dan sahabat-sahabatku yang lainnya untuk memberikan semangat padaku. Aku hanya bisa mendengar suara mereka samar-samar karena aku tidak sepenuhnya sadar. Namun aku bisa merasakan bahwa mereka tetap memberikan semangat padaku. Terimakasih sahabat-sahabatku, kalian tetap mendukung ku hingga sekarang. Aku sangat menyayangi kalian.
          Hari ini aku akan dioperasi. Selama ini aku belum pernah masuk ke ruang operasi atau pun merasakan rasanya di operasi. Tapi kini aku akan merasakannya. Dengan hati-hati suster-suster membawaku masuk ke dalam ruang operasi. Suasana berubah hening. Dokter mulai menyuntikkan obat bius. Aku kembali tak sadarkan diri. Dalam tidurku aku bermimpi dan dalam mimpi ku aku melihat diriku sendiri dan sahabat-sahabatku di sebuah sungai yang letaknya tak jauh dari rumah ku yang selalu kami datangi bersama. Wajah mereka terlihat begitu bersih dan putih dan memakai baju yang berwarna putih bersih. Aku bercanda dengan mereka, bermain bersama dan berbincang dengan akrab.
########################
                   “ Selamat pagi Jeje.” Sambut Ibu dan Ayahku beserta sahabat-sahabatku yang lainnya.
                   “ Selamat pagi juga semuanya.” Aku membalas salam mereka dengan senyuman.
                   “ Je, ada kabar gembira untukmu, keadaanmu sekarang sudah membaik. Kamu sekarang sudah dinyatakan sembuh total oleh dokter.” Jelas Ayahku.
                   “ Alhamdulillah.” Ucap kami serentak.
          Sepertinya kebahagian itu tidak hilang. Kebahagian itu sudah kembali hadir di antara kami. Kesedihan dan penderitaan itu kini seakan terkikis oleh waktu. Aku merasakan diriku tetap ada. Aku bersyukur bisa punya sahabat-sahabat yang selalu ada di sampingku dan menyayangiku dengan tulus. Aku berharap kebahagian ini tidak akan hilang lagi dan akan selalu hadir diantara kami.

0 komentar:

Posting Komentar

Template by:

Free Blog Templates