Harapan Dan Persahabatan
Teeet ... Teeet ... Teet ... ! Bel pulang pun berbunyi,
saat-saat yang paling di tunggu-tunggu oleh setiap siswa di SMP Harapan Bangsa.
Terlihat beberapa siswa tertawa riang, ada yang sibuk dengan acara berbenahnya,
bahkan ada yang terlihat belingsatan ingin segera pulang. Maklumlah kalau
dilihat-lihat kelas kami lain daripada yang lain. Ehehe.... Lain karena memang
warga negara kelas kami ( Duiiileehh resmi amat bahasanya ) rada-rada gokil
gitu.
Dubes kami dengan gaya sok cool nya
terlihat sedang bersiap-siap memandu kami untuk memberi salam pada Bu guru.
Dubes atau Duta Besar yang aku maksudkan di sini adalah Si Ketua Kelas kami, namanya
Rocky. Aku juga heran mengapa namanya Rocky. Kalau dalam bahasa Inggris , arti
dari Rocky itu sendiri adalah berbatu-batu. Memang kulitnya yang terlihat gelap
dan hitam layaknya batu. Bahkan teman ku di kelas ada yang memanggilnya Satam.
Satam adalah sejenis batu meteor yang jatuh ke bumi.
“ Assalaaaamuuualaaaikuum
warahmatullaaahii wabarakaaaatuuuh!” Kami serentak mengucapkan salam dan
berebut bersalaman dengan Bu guru. Pintu kelas terasa sempit karena kami
berdesakan untuk keluar kelas.
“ Woooy ... sempit nih, bisa
antri bentar ga sih? Ckckck...” Seru Bella.
“ Iih! Please deh ah, emangnya
mau antri minyak apa!” Sahut Fera yang
terkenal seantero kelas paling cerewet.
“ Miisii ...!! anak kepsek
mau lewat. Bisa kasih jalan dikit ga sih?” Celutuk Erna si anak kepsek di SMP
Harapan Bangsa yang sombongnya selangit.
“ Idiih ...! baru aja anak
kepsek, gimana kalo jadi anak presiden! Belagu lo!” Bantah Fera.
“ Eeh ... Udah-udah ... Kalo terus-terusan liat kalian
bertengkar, kapan kita pulangnya nih ?” Aku berusaha untuk menghentikan
pertengkaran yang kalau dibiarkan terus menerus mungkin sampai besok pun tidak
akan pernah selesai.
Memang kalau dilihat selintas , kami seperti
musuh, tetapi sebenarnya kami ber-4 adalah sahabat yang saling mengerti satu
sama lain. Dan bagi kami jika ada yang mengatakan bahwa kekurangan harus di
tutupi kelebihan yang lain, maka kami merubahnya menjadi kekurangan akan
ditutupi oleh kekurangan yang lain. Hehehe.
##############
Mobil Mercy berwarna biru cerah
terlihat memasuki gerbang dan mang Anton melambaikan tangan nya dari kaca jendela
mobil. Kam ber-4 berjalan menuju arah mobil tersebut
yang tidak lain adalah mobil erna. Kami ber -3 masuk ke dalam mobil tersebut
tidak lain untuk menumpang. Lain dengan fera ia tidak mau masuk
..
“Fer .. masuk sini enak lho dianterin naik
mobil, gratis lagi .. hehehe” panggil Jeanny
“ Nggak ah .. nggak mau
mendingan gue jalan kaki daripada naik mobil itu”
celetuk Fera
‘’ Sudahlah .. masuk aja gak usah sok jual
mahal gitu .. gue ikhlas kali nawarin loe”
sahut Erna.
“Ya udah deh kalau gitu .. gue
masuk” jawab Fera dengan wajah cemberut.
Kami ber -4 kemudian diantar Erna pulang ke rumah kami
masing-masing. Sesampai di rumah kepalaku terasa begitu sakit dan seharian
penuh aku tertidur dengan sangat pulas.
##############
Hari ini, tepat pada hari Senin
seperti biasanya di sekolah ku selalu melaksanakan upacara bendera. Pak Isman
dengan sigap mengatur semuanya. Para petugas upacara pun terlihat tengah
bersiap-siap untuk melaksanakan tugasnya sebagai petugas pada hari ini. Mereka
terlihat sangat serius mempersiapkan segalanya demi kelangsungan upacara
bendera pada hari ini. Kelompok paduan suara pun tengah melatih suara mereka
agar kompak dan tidak sumbang saat menyanyi nanti. Semua telah siap, petugas
siap, peserta upacara juga siap, upacara pun dimulai.
Sejauh ini, upacara berlangsung dengan
sukses, hingga tiba-tiba matahari mulai naik dan mencurahkan sinarnya dengan
suhu yang sangat panas. Semuanya baik-baik saja, dan tidak ada tanda-tanda
bahwa ada peserta-peserta maupun petugas yang akan pingsan pada hari ini. Cuaca
hari ini benar tidak mendukung, begitu panas dan
kering. Aku memperhatikan sekelilingku, terlihat para peserta upacara yang lain
mulai gelisah dan seakan tidak tahan lagi melaksanakan upacara pada hari ini.
Aku pun
merasakan demikian, keringat mulai bercucuran dari dahi ku dan membasahi topi
yang kukenakan. Sekarang saatnya Pembina upacara yaitu Bu Sri untuk
menyampaikan amanat dan nasehat-nasehatnya pada kami semua.
###################
Ya
Allah, tinggal sebentar lagi upacara akan berakhir. Kepalaku mulai pusing,
pandangan mataku menjadi agak gelap.
“
Loe kenapa je? Kok hidungnya berdarah?” Bella bertanya
dengan raut mukanya yang cemas.
“ Ha?
Berdarah?”bukannya menjawab pertanyaan Bella,aku malah balik bertanya seraya
memegang hidungku. Aku terkejut. Ini memang darah. Aku mimisan.Pandanganku mulai
semakin gelap.Aku terjatuh dan langsung pingsan.
Saat
aku terbangun, aku sudah berada didalam ruangan UKS. Terlihat Bella si jail
sedang menunggu disampingku. Setelah agak membaik, Aku dan Bella segera
meninggalkan ruangan UKS dan langsung menuju ke kelas.
########################
Keesokan
harinya, pada saat sedang menjalankan proses belajar, tiba-tiba wali kelas
datang dengan membawa seorang murid yang tak pernah kami lihat sebelumnya.
“Anak-anak,
perkenalkan, ini siswa pindahan dari SMP N 47 Bandung.” jelas Bu Guru sambil
memperkenal siswa tersebut.
“Perkenalkan,
nama saya Lusi, saya adalah siswa pindahan dari SMP N 47 Bandung” jelas Lusi.
“Apa
ada yang ingin kalian tanyakan kepada siswa baru ini?” Tanya Bu Guru.
“Saya Bu!” Seru Bela. Dari air mukanya sepertinya dia berniat
iseng nih sama murid baru. Bella memang jail.
“Iya Bella, silahkan.”
“ Hai Lusi , kalau boleh tau
nomor sepatunya berapa yah? Hehehe...” Bella bertanya dengan raut wajah tanpa
dosanya. Lantas semuanya tertawa dan sontak kelas ku pun menjadi riuh oleh
tingkahnya.
########################
Saat jam istirahat semuanya
mengerubungi murid baru.
“ Alooo Lusi, kenalin namanya
gue Dikky. Gue cowok paling ganteng di sekolah ini.” Dikky memperkenalkan
dirinya pada Lusi dengan gaya nya yang jaim dan sok coolnya. Dikky memang
terkenal paling narsis dan lebay di kelas kami.
“ Huuuu.... dasar Dikky,
kalau liat cewek cantik dikit aja, langsung deh narsis nya kumat..” Gerutu
Fera.
“ Aduh, Rese loe! Kalo iri
bilang aja deh jangan di tutup-tutupin.” Tuduh Dikky pada Fera.
“ Iiihh! Ga banget deh, masa
gue iri ama loe!” Sahut Fera.
“ Aduh Dikky, please deh ah
ga mungkin lah si Fera iri ma loe!” Erna membela Fera yang membuat Dikky
semakin panas saja.
“ Betuul tuuh, bener banget
Er!” Jelas Fera.
Perselisihan antara Fera dan Dikky
terus berlanjut dan beberapa dari temanku terlihat keheranan dengan tingkah
laku mereka berdua. Tiba-tiba bel masuk kelas berbunyi. Ketika mendengar bel
kami cukup terkejut juga oleh suara yang begitu keras dari speaker yang
letaknya sangat dekat dengan kelas kami.
“ Astaga... berisik banget
sih, ga tau apa kalo gue lagi berantem.” Celutuk Fera.
“ Yah ga akan tau lah kali!”
Sahut Erna.
“ Aduuhh,, kalian ini, ga ada
hari tanpa berantem apa? Udah masuk nih, mendingan kita langsung siap-siap ,
selanjutnya kan pelajaran Bu Lenny ntar kita malah diomel-omelin lagi.” Aku
yang tak tahan melihat pertengkaran mereka pun mulai turun tangan untuk melerai.
Tiba-tiba..............
“ Hooyyy, Bu Lenny mau
datang. Bu Lenny mau dataaaangg..” Teriak Bella.
Sontak kami semua terkejut dan
langsung terburu-buru ke depan kelas untuk berbaris. Selang beberapa menit
kemudian ternyata Bu Lenny belum datang-datang juga.
“ Loh kok Bu Lenny belum
datang-datang juga?” Tanyaku.
“ Kemanaaaa... kemana...
kemaanaaaa..??” Janson langsung menyambung pertanyaan ku dengan nyanyiannya.
“ Suara sapa sih tuh yang
nyanyi lagu Ayu Ting-Ting? Mana suaranya fals lagi.” Gerutu Fera.
“ Itu tuh, Si Babon.” Jawab
Bella.
“ Mana sih Bu Lenny nya? Tadi
loe bilang Bu Lenny udah datang, kok sampai sekarang belum datang juga sih?”
Tanya Rocky.
“ Hehehe,, emang gue ada
bilang kalo Bu Lenny udah datang yah?”
“ Laaahh, yang tadi itu loe
bilang Bu Lenny udah datang kan?” Fera bertanya.
“ Makanya lain kali denger
yang bener, gue kan bilang Bu Lenny mau datang bukannya Bu Lenny udah datang.
Hehehe” Sanggah Bela.
“ Huuuu... Dasar Bella” Sorak
teman-teman.
########################
Di Perjalanan pulang seperti biasanya
aku dan sahabat-sahabat ku yang lainnya menumpang di mobil Erna untuk diantar
pulang. Yang diantar pertama kali adalah Fera selanjutnya Bella, dan yang
terakhir adalah aku.
“ Erna, makasih yah udah mau
anterin aku” Ucapku.
“ Iya, sama-sama Je.”
“ Ga mampir dulu nih?”
“ Ngga deh, kapan-kapan aja
yah. Udah dulu yah, gue pulang dulu. Sampai besok.” Pamit Erna.
“ Iya, hati-hati di jalan
yah.”
“ Bye Je.”
“ Bye Erna.”
########################
“ Eh Fer, PR Matematika loe
udah selese belom?”
Seperti biasa, Dikky hari ini pun
masih sibuk mencari orang yang mau memberikan jawaban PR kepada nya. Dan
mangsanya pada hari ini adalah Fera. Satu kesalahannya, seharusnya dia masih
ingat dengan pertengkaran yang kemarin mereka perbuat. Tetapi entah lupa atau
memang sengaja ia dengan nekat meminjam PR Matematika Fera.
“ Waah, jagoan ternyata ga
bikin PR lagi nih. Eh Dikky, berani banget lo minjem PR ke gue. Padahal kan
baru aja kemaren loe nyari gara-gara ma gue.” Bantah Fera.
“ Hehehe... udah lah Fer, itu
kan kemaren. Sekarang kan udah berubah. Please, gue butuh banget nih. PR gue
belom kelar.” Dikky memohon-mohon pada Fera.
“ Ehhhmm... gimana yah? Pinjamin
ga’ yah? Eh temen-temen menurut kalian gue mesti minjamin PR ke Dikky ga’?”
Tanya Fera dengan nada yang agak meledek Dikky.
“ Udah Fer, kita suruh dia
mohon-mohon aja dulu.” Bisik Bella.
“ Hehehe. Bener juga tuh.
Kita kerjain aja dulu. Sekali-kali kita kasih pelajaran kan gapapa yah.”
Sambung Erna.
“ Kalian kok gitu, kan
kasiaan” Aku berusaha untuk mencairkan suasana.
“ Kasian ma siapa?” tanya
Fera.
“ Yah, sama Dikky lah.”
Jawabku.
“ Ngapain orang kaya gitu
dikasihanin.” Sambung Bella.
“ Ya udah, aku sih terserah
kalian aja deh sekarang.”
“ Hehehe, nah sekarang
giliran kita beraksi nih Fer.” Bella memprovokasi Fera agar menjalankan niat
busuk mereka.
Lusi si anak baru datang menghampiri
kami.
“ Assalamualaikum
teman-teman.” Sapa Lusi.
“ Wa alaikum salam Lus.”
Jawab kami serentak.
“ Kalian lagi ngapain nih?”
Tanya Lusi.
“ Biasalah, lagi mau ngasih
pelajaran buat si Dikky nih. Sekali-kali gapapa lah yah, dia kan bandel banget
tuh.” Bisik Fera.
“ Hehehe, boleh ikutan kan?”
Lusi berniat untuk bergabung ke dalam kelompok jail ini.
“ Wah wah, boleh banget kok.
Malahan kita seneng banget kok kalo loe mau gabung ma kita-kita.” Erna dengan
semangat menyambut Lusi yang ingin bergabung.
Mereka ber-4 mulai melaksanakan
rencana mereka untuk menjaili si Dikky. Tapi aku tidak ikut dalam rencana
mereka. Aku hanya bisa melihat saja.
“ Eh Dikky, gue mau kok
minjemin PR gue ke loe asalkan loe mau mohon-mohon dulu ke gue.” Fera mulai
melakukan niatnya.
“ Mohon-mohon? Maksudnya?”
Dikky mulai bingung.
“ Yah mohon-mohon. Masa ga
tau sih? Ga tau yah? NDESOOO!” Ledek Bella.
“Iya deh Iya. Gue mau
ngelakuinnya asal kalian mau minjemin PR ke gue.” Dikky mulai pasrah dan
akhirnya dia mau melakukan apa yang diinginkan oleh Fera.
Dikky mulai memohon-mohon pada Fera.
Segala jurus jitunya untuk merayu telah ia kerahkan namun Fera belum juga mau
meminjamkan PR kepadanya. Ia mulai merasakan bahwa Fera hanya ingin
mempermainkannya tetapi ia tidak peduli asalkan Fera mau meminjamkan PR nya.
“ Udah dong Fer, gue kan udah
mohon-mohon nih ma loe. Pinjemin dong PR nya”. Dikky memohon, ia mulai lelah.
Fera yang melihat Dikky mulai lelah
pun menjadi terketuk hatinya dan ia menjadi tak tega jika lama-lama membuat
Dikky seperti itu. Akhirnya Fera mau juga meminjamkan PR nya pada Dikky. Dikky
terlihat senang dan berterimakasih pada Fera dan tak lupa juga ia minta maaf
atas kelakuannya kemarin. Sejak kejadian ini pula kami mulai bersahabat dengan
Lusi.
########################
Pukul 09.15 waktunya istirahat dan
kami pun setelah mengucapkan salam pada guru, segera berhamburan keluar kelas.
Aku dan sahabat-sahabatku seperti biasanya setelah jajan di kantin kami
langsung duduk ramai-ramai di bangku depan kelas. Saat sedang asyik-asyik nya
bercanda tiba-tiba rasa sakit itu datang lagi. Kepalaku seperti mau pecah.
“ Je, loe kenapa? Kok mukanya
pucet gitu?” Tanya Lusi. Seperti nya ia memperhatikan ku dan mulai cemas akan
keadaan ku.
“ Gapapa kok. Cuman sakit
kepala aja dikit Lus.” Jawabku untuk meyakinkan mereka bahwa aku baik-baik
saja.
“ Kalau loe sakit mending
kita ke UKS aja deh Je.” Sambung Bella.
“ Ga usah, aku gapapa kok.
“ Eh eh, tunggu deh.
Temen-temen kok Jeje mimisan sih?” Fera setengah berteriak memanggil
teman-teman.
Suasana mulai berubah menjadi tegang.
Aku tidak sepenuhnya bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Kemampuan
telingaku untuk mendengar seperti telah berkurang. Kepalaku juga makin sakit
saja. Aku tidak bisa mengingat apa yang terjadi tetapi setelah aku sadar aku
telah berada di rumah.
“ Je, loe udah sadar? Kalau
loe sakit cerita dong ke kita.” Lusi ternyata sangat mencemaskanku.
“ Ga kok. Aku gapapa.”
Singkat ku.
“ Mending kita ke dokter aja
yuk Je. Kita periksa. Gue takut loe kenapa-kenapa soalnya belakangan ini kamu
sering mimisan dan pingsan.” Sambung Fera.
Di depan terdengar suara mobil
memasuki halaman rumahku. Aku mengenali suara mobil itu. Seperti suara mobil
Erna, ya, aku tak salah lagi itu memang Erna. Kini ia telah berada di kamar ku
dan memaksaku untuk ikut dengannya.
“ Je, gue ga mau tau pokoknya
kita harus ke dokter sekarang juga.” Erna memaksaku.
“ Tapi Er..” Perkataan ku
menggantung.
“ Ga ada tapi-tapian.
Pokoknya loe ikut gue sekarang!” Bantah Erna.
“ Ya udah.” Aku mulai
menyerah.
########################
“ Gimana Dok? Jeje ga
kenapa-kenapa kan?” Tanya Bella.
“ Saya perlu berbicara pada
orangtua Jeje.” Ucap dokter dengan raut muka yang serius.
“ Kami orangtuanya Dok.” Ayah
dan Ibu ku segera memasuki ruangan dokter.
“ Begini pak, buk. Anak Ibu
dan Bapak sepertinya mengidap penyakit Leukemia.” Jelas Dokter.
“ Apa Dok? Leukemia?” Ibu ku
mulai syok setelah mendengar penjelasan dokter.
“ Ibu jangan khawatir dulu,
ini baru perkiraan kami sementara. Kita harus melakukan pemeriksaan lebih
lanjut. Saya berharap anak Ibu dan Bapak tidak mengidap penyakit itu. Hasil
pemeriksaannya bisa Ibu ketahui besok.” Jelas dokter.
########################
Hari ini, hari yang sangat ku tunggu.
Hasil pemeriksaan itu akan segera aku ketahui. Hanya karena selembar kertas itu
akan membawa kebahagian ataukah kesedihan yang akan aku dapatkan. Aku berharap
bahwa ia akan memberikan kebahagian itu padaku. Sekarang aku hanya bisa
berharap dan berdoa. Sahabat-sahabatku juga akan ikut melihat hasilnya.
“ Je, loe tenang aja yah.
Walaupun loe emang sakit, kita ga bakalan ninggalin loe kok.” Fera berusaha
menenangkanku.
“ Iya tuh Je. Kita janji akan
selalu ada untuk loe kok.” Sambung Lusi.
“Makasih yah teman-teman. Aku
senang banget punya sahabat-sahabat seperti kalian.” Ungkapku.
########################
“ Selamat sore dok. Kami
datang untuk mengetahui hasil tes nya.” Ucap ayahku.
“ Ini Pak hasilnya bisa Bapak
lihat di kertas ini.” Jelas dokter.
“ Bismillahirohmanirrohim.”
Kami serentak membaca basmalah.
Apa yang tertulis di kertas hasil tes
itu sungguh membuat ku terpukul. Rasanya seperti beribu-ribu pisau menusuk
hatiku. Aku merasa begitu hancur. Putus asa. Aku seperti kehilangan diriku
sendiri. Rasanya kebahagian itu mulai hilang berganti dengan kesedihan dan
penderitaan yang datang. Aku syok begitu terkejut.
########################
“ Jeje, kamu harus sadar
nak.” Ibu ku terisak di samping ku yang terbujur kaku di ruang ICU.
“ Udah Bu, jangan sedih lagi.
Kita sekarang harus berusaha sekuat mungkin untuk membuat Jeje sembuh.” Ayah
berusaha menenangkan Ibu.
“
Bu, kita sekarang harus berusaha Bu. Kita juga harus berdoa untuk kesembuhan
Jeje.” Isak Bella.
“ Selamat malam Bu. Keadaan
Jeje sudah semakin memburuk. Saya tidak menyangka kanker itu mulai mengganas.
Kita harus melakukan operasi pengangkatan kanker atau kita menghancurkan sel
kanker itu dengan melakukan kemotheraphy.” Dokter mulai mengingatkan untuk
mengambil tindakan segera.
“ Lakukan aja apa yang
terbaik buat Jeje Dok.” Tegas ayahku.
########################
“ Nak, sebaiknya kalian pulang
aja dulu. Hari sudah malam nak. Biar Ibu dan Bapak saja yang akan menunggui
Jeje.” Nasehat Ibuku.
“ Iya Bu. Kami pulang dulu
yah. Besok kami akan kesini lagi.” Pamit Erna dan sahabat-sahabatku yang lain.
########################
Keesokan harinya sahabat-sahabatku
datang lagi ke rumah sakit untuk menjengukku dan memberikan semangat padaku.
“ Je, loe musti tetap hidup
yah Je.” Ucap Lusi dan sahabat-sahabatku yang lainnya untuk memberikan semangat
padaku. Aku hanya bisa mendengar suara mereka samar-samar karena aku tidak
sepenuhnya sadar. Namun aku bisa merasakan bahwa mereka tetap memberikan
semangat padaku. Terimakasih sahabat-sahabatku, kalian tetap mendukung ku
hingga sekarang. Aku sangat menyayangi kalian.
Hari ini aku akan dioperasi. Selama
ini aku belum pernah masuk ke ruang operasi atau pun merasakan rasanya di
operasi. Tapi kini aku akan merasakannya. Dengan hati-hati suster-suster
membawaku masuk ke dalam ruang operasi. Suasana berubah hening. Dokter mulai
menyuntikkan obat bius. Aku kembali tak sadarkan diri. Dalam tidurku aku
bermimpi dan dalam mimpi ku aku melihat diriku sendiri dan sahabat-sahabatku di
sebuah sungai yang letaknya tak jauh dari rumah ku yang selalu kami datangi
bersama. Wajah mereka terlihat begitu bersih dan putih dan memakai baju yang
berwarna putih bersih. Aku bercanda dengan mereka, bermain bersama dan
berbincang dengan akrab.
########################
“ Selamat pagi Jeje.” Sambut
Ibu dan Ayahku beserta sahabat-sahabatku yang lainnya.
“ Selamat pagi juga
semuanya.” Aku membalas salam mereka dengan senyuman.
“ Je, ada kabar gembira
untukmu, keadaanmu sekarang sudah membaik. Kamu sekarang sudah dinyatakan
sembuh total oleh dokter.” Jelas Ayahku.
“ Alhamdulillah.” Ucap kami
serentak.
Sepertinya kebahagian itu tidak
hilang. Kebahagian itu sudah kembali hadir di antara kami. Kesedihan dan
penderitaan itu kini seakan terkikis oleh waktu. Aku merasakan diriku tetap
ada. Aku bersyukur bisa punya sahabat-sahabat yang selalu ada di sampingku dan
menyayangiku dengan tulus. Aku berharap kebahagian ini tidak akan hilang lagi
dan akan selalu hadir diantara kami.


0 komentar:
Posting Komentar